Tabel Narasi – Lebaran identik dengan hidangan ketupat yang tersaji di meja makan. Namun, di balik tradisi yang penuh suka cita tersebut, terselip kisah pilu dari para pedagang musiman anyaman kulit ketupat. Tahun ini, suasana di berbagai pasar tradisional terasa berbeda. Para pedagang yang biasanya tersenyum lebar menyambut lonjakan permintaan, kini harus mengerutkan kening menghadapi realita pasar yang mendingin.
Lebaran Yang Berat Bagi Pedagang Anyaman Ketupat Pembeli Sepi Harga Janur Mencekik
Masalah utama yang mencekik para pedagang tahun ini adalah meroketnya harga janur (daun kelapa muda). Akibat cuaca yang tidak menentu dan kendala distribusi dari daerah penghasil, harga satu ikat janur di tingkat pengepul mengalami kenaikan hingga dua kali lipat dibanding tahun lalu.
Kenaikan modal ini menempatkan pedagang dalam posisi dilematis. Jika mereka menaikkan harga jual kulit ketupat terlalu tinggi, pembeli dipastikan akan lari. Namun, jika bertahan di harga lama, keuntungan yang didapat bahkan tidak cukup untuk menutup ongkos transportasi. “Modalnya sudah tinggi dari sananya. Kalau saya jual murah, saya rugi tenaga. Kalau mahal, orang hanya tanya lalu pergi,” keluh salah satu pedagang di pasar induk.
Pergeseran Tren Dari Daun ke Plastik
Selain masalah modal, lesunya pembeli juga dipicu oleh perubahan perilaku konsumen. Masyarakat perkotaan kini cenderung memilih kepraktisan. Kehadiran ketupat instan atau ketupat plastik yang hanya perlu direbus tanpa perlu keahlian menganyam mulai menggerus pasar ketupat janur tradisional.
Tak hanya itu, menjamurnya katering Lebaran membuat banyak keluarga tidak lagi repot-repot memasak sendiri. Kondisi ini membuat permintaan akan kulit ketupat di pasar-pasar tradisional menurun drastis. Lapak-lapak yang biasanya diserbu ibu-ibu rumah tangga sejak H-3 Lebaran, kini tampak lengang, menyisakan tumpukan anyaman yang mulai menguning karena tak kunjung laku.
Daya Beli yang Belum Pulih Sepenuhnya
Kondisi ekonomi makro juga turut andil dalam memperberat beban pedagang. Dengan naiknya harga kebutuhan pokok lainnya seperti beras dan daging, anggaran masyarakat untuk pernak-pernik Lebaran menjadi sangat terbatas. Prioritas belanja bergeser pada bahan pangan utama, sehingga membeli kulit ketupat dalam jumlah besar bukan lagi menjadi keharusan.
Banyak pedagang yang akhirnya terpaksa membanting harga di malam takbiran demi menghabiskan stok. Daripada janur tersebut kering dan menjadi sampah, mereka rela menjual dengan keuntungan tipis, bahkan impas, hanya agar modal awal bisa kembali.
Harapan yang Tersisa di Ujung Hari
Bagi para pedagang ini, berjualan kulit ketupat bukan sekadar mencari untung besar, melainkan upaya menyambung hidup demi bisa merayakan Lebaran bersama keluarga di kampung halaman. Meski dihimpit harga janur yang mencekik dan sepinya pembeli, mereka tetap bertahan di sudut-sudut pasar dengan jemari yang terus lincah menganyam, berharap ada keajaiban di menit-menit terakhir sebelum gema takbir berkumandang.
Tradisi ketupat memang tidak akan hilang, namun nasib para perajin dan pedagang kecilnya kini berada di persimpangan jalan. Tanpa adanya kestabilan harga bahan baku dan dukungan terhadap produk tradisional, pemandangan pedagang anyaman ketupat mungkin akan semakin langka di masa depan.

